Pages

Friday, March 5, 2010

Arti kematian


Hampir dua tahun saya di Malaysia, jauh dari rumah dan sepanjang itu pula banyak kejadian terjadi termasuk kematian. Saya belajar banyak tentang makna dan arti kematian dan perasaan ditinggalkan.

Dulu, ketika saya masih berusia remaja ada satu kejadian bagaimana saya mempersepsikan kematian. Ketika kami menunggu guru kami yang akan mengajar pelajaran tersebut tidak kunjung tiba, 1 jam lewat berita duka cita datang mengabarkan bahwa beliau meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan. Kami syok! pada saat itu juga kami mengheningkan diri dalam suasana berkabung. Beberapa teman saya melelehkan air mata dan suasana sedih seketika. Apa yang saya lakukan? saya melirik-lirik sana sini melihat teman-teman saya. Teman saya bertanya pada saya ketika jam pelajaran istirahat: "Kamu tidak merasa sedih?" (karena saat itu saya masih tersenyum seolah tidak ada yang terjadi). Saya menjawab: "kenapa mesti sedih? sudah meninggal lalu mau bagaimana?". Saya sadar saya berbicara seolah tidak punya perasaan, tapi itu benar adanya yang ada dalam benak saya, kita menangis pun guru saya tidak akan kembali. Apakah itu salah? apakah saya tidak mengerti arti kematian saat itu? kenapa tidak ada sedikit rasa inging menangis? yahh...mungkin saya tidak mengerti.

Waktu berlanjut, saya beranjak masuk SMU dan kuliah. Di masa- masa ini saya merasakan perasaan sedih karena kematian. Beberapa teman saya ditinggalkan oleh papa atau mama mereka untuk selamanya. Pertama kali, saya tidak tahu bagaimana harus bereaksi tapi saya merasakan perih membayangkan jika itu terjadi pada saya dan sedih bagaimana perasaan dan nasib teman saya yang terbilang masih muda. Saya ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka, yang dapat saya lakukan adalah turut berduka cita dan saya benar-benar berharap pada Tuhan dan Buddha untuk membantu dan memberikan ketabahan buat mereka.
Saya merasa bersyukur atas apa yang saya punya saat itu, saya masih punya orangtua. Pada masa ini saya rajin ke rumah duka jika saya mendengar teman saya kehilangan orang yang dikasihinya ataupun siapa saja yang saya kenal, asalkan rumah duka itu masih bisa terjangkau.

Selanjutnya berita kematian yang saya alami selama di Malaysia, tidak terhitung. Tiga bulan pertama di Malaysia, Ako (tante) saya yang tinggal di Malaysia, Johor Bahru meninggal dunia. Sedih sekali karena setiap kali liburan dan ke Malaysia kami pasti ke tempatnya, dan itulah alasan utama ke Malaysia yaitu untuk mengunjunginya. Karena ia tinggal jauh dari negaranya dan tidak pernah kembali setelah berkeluarga. Dia orang yang baik dan tulus, cerita hidupnya begitu menyentuh. Tante saya itu meninggal pertengahan abad. Cukup ironi ketika mendengar saat-saat terakhir sebelum ia meninggal karena sakit. Tidak akan saya bahas disini, mungkin lain kali. Saya langsung ke Johor sendiri. Pertama saya tidak menangis hanya sedih dan saya baru benar-benar menangis ketika melihat orang lain menangis. Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa susah buat menangis? apakah hati saya begitu dingin?
Kemudian disusul berita papa sahabat saya yang meninggal, saat itu saya langsung menangis setelah mendengar kabarnya. Sedih karena tidak bisa menemani teman saya. Banyak hal berkecamuk di pikiran saya dan saya tahu itu tidak mudah buat teman saya. Selanjutnya, berita-berita kematian orang-orang yang sudah tua, nenek teman saya, kerabat dan teman orang tua saya.

Di tahun 2010 ini, selajutnya berita kematian guru tersayang saya di waktu SD dan nenek saya.

Jadi, apa yang saya pelajari disini?
Sejak begitu banyak peristiwa kematian saya sempat berpikir: Siapkah jika suatu hari saya ditinggalkan? Apakah saya udah melakukan yang terbaik? setidaknya saya tahu saya harus siap jika hal itu terjadi.

Seringkali saya berpikir bagaimana dan apa yang dilakukan setelah mati? kemana mereka pergi?

Dan sepertinya sekarang ini saya mulai mendapat jawaban setelah saya mencari dan membaca perihal kematian menurut agama Buddha. Hal- hal yang tidak mungkin terjelaskan dan hidup sebagai manusia menjelang kematian tidaklah mudah jika kita tidak ingin tersesat di alam lain.

Maka itu sebagai manusia banyak-banyaklah berbuat baik dan belajar bijaksana dalam menyikapi hidup. Ada sebuah kalimat yang sering kita dengar.. Kebahagiaan, makna hidup bukan diukur dari panjangnya usia tapi dari hal berarti yang telah dilakukan selama hidup..

3 comments:

Mahesa Pandu said...

Semua orang banyak yang suka bicara tentang cinta, rindu, valentine, bahagia, tangis. Tapi tentang kematian ...?
Saya sendiri akui tak bisa banyak koment tentang kematian.
Kelahiran selalu identik dengan riang gembira bergelimang harapan
Kematian sebaliknya, terkesan duka, dan akhir sebuah cerita gembira. Sebuah rangkaian misteri yang harus dijalani dengan kehendak dan pasrah.

Deph said...

Hai

iya memang susah digambarkan dengan kata-kata ttg kematian itu sendiri. karena kita punya interpretasi sendiri ttg kematian.

kematian bagian dari kehidupan sebagaimana kelahiran. tapi kematian selalu pasti dan kelahiran itu sendiri juga gak pasti (ngebayangin bayi-bayi yg diaborsi heheh..). ketika lahir pun kita harus siap dgn cobaan dan tantangan yang menunggu.

thanks udah mampir :)

felicity said...

Setiap yang bernyawa, pasti akan mati suatu saat... tinggal tunggu waktunya tiba...

Setiap bentuk energi nggak akan musnah tapi akan berubah menjadi bentuk energi lain (hukum kekekalan energi).... Yang menjadi pertanyaan.... kemana energi manusia yang hidup pergi setelah meninggalkan jasad?... Tak ada yang tahu pasti karena belum ada orang mati yang hidup kembali dan bisa menjelaskan ini dengan tuntas...

Dari sejumlah riset, konsepsi tentang 'surga' atau 'after life' berbeda2x dari setiap orang yang mengalami pengalaman NDE (nead death experience) ataupun mereka yang sudah dinyatakan mati secara medis lalu hidup lagi... Perbedaan ini dipengaruhi kepercayaan dan keyakinan si individu ybs. MIsalnya, kalau orang beragama A, ia akan merasakan sensasi dijemput malaikat maut menurut versi agama A, jika beragama B ia merasakan versi 'after life' menurut versi agama B... Karenanya ada pendapat bahwa, pengalaman 'after life' dari mereka yang mengalami NDE adalah rekaman yang tersimpan dalam memori otak semasa hidup.

Duh, panjang bener ya.... saya sendiri kadang bertanya2x tentang hal yang sama... what happen after you die?... Tidak ada yang tahu pasti jawabannya 100%.