Pages

Sunday, February 9, 2014

Every new year is a hope

Looking back at 2013 that I only posted 2 artcles, what I had been doing last year?
June 2012 I started working and I spent 2013 year with kept busy with my work and all hassles, it consumed my mind and energy.. sometimes I asked myself, is this the work I want to pursue? what's next?sometimes everything felt static, nothing change. I always looking forward of Friday cause it means tomorrow is Saturday :P. Some friends have their own family and busy either with their own work.

But, I got knew that this is maybe adult life, burden with work, time to pursue money and love, find a life partner, get married, raise children.. and I just have accomplished few. Working life, some kind of youth friendship has became faded slowly, the feeling was there different. Working life, a period that I thought social life will not change, actually it is. Colleagues still colleagues, few of them and could be your truly friends. Working life, a period to meet cunning people and all politics and gossips go on.

Every new year I give my hope for the year ahead, this year 2014, hoping for my country, my parents, and my life.

Sunday, November 3, 2013

The Timekeeper

Ketika baru lulus kuliah atau mendengar seseorang tiba-tiba sudah punya anak besar-besar..."Wah, waktu berjalan cepat sekali ya.. tidak terasa". 
 Ketika seseorang dikejar-kejar deadline "Saya butuh lebih banyak waktu lagi nih.." 
Ketika seseorang tersadar masih banyak yang  belum ia lakukan: "Ya Tuhan, sekarang sudah November.. sebentar lagi tahun 2014 lagi."
Ketika bersama-sama reuni dengan teman-teman merayakan ulang tahun: "Kayaknya baru kemarin ya rayain ulang tahun.."
Ketika seseorang dalam keadaan sekarat dan menghitung waktu: "Tuhan, berikanlah saya waktu sehari, beberapa minggu, sebulan, setahun lagi.."
Ketika seseorang stress dan tidak ingin hidup lagi:"Buat apalah hidup lama-lama, tidak berguna.."
Ketika seseorang menunggu gajian: "Cepetan donk sebulan biar cepet dapet gaji..!"


Kalimat-kalimat seperti ini seringkali muncul dalam pembiacaraan kita sehari-hari, begitupula dengan saya. Saya seringkali mengeluh ya ampun kok waktu berjalan cepat sekali dan ada perasaan sudah tambah tua aja nih... 
Jika diperhatikan lebih lanjut, semuanya adalah mengenai WAKTU.

Kemudian, saya menemukan sbeuah buku yang berada di tumpukan buku-buku SALE yang berantakan. sebuah buku dari pengarang favorit saya sejak dulu Mitch Albom, mungkin ada yang pernah baca Tuesdays with Morrie? atau Five People you Meet in Heaven?
Buku SALE yang tanpa ragu-ragu saya pungut dan beli The Timekeeper....

Di awal-awal bab sempat membuat saya bingung dengan cerita yang terlalu fiktif diluar nalar, cerita yang dirangkai membahas dari manakah konsep waktu itu muncul beribu-ribu tahun yang lalu, hingga akhirnya kita mengenal jam, menit, detik, hingga hari dan bulan.... hal yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. entah itu fiksi atau non fiksi dari Mitch Albom, semakin ke belakang semakin ada makna..hingga sebuah kalimat yang cukup mengena: karena manusia terus memikirkan waktu maka timbullah kecemasan. Coba dibayangkan seandainya manusia tidak pernah tahu tentang waktu langit terang gelap dan tidak ada jam di dunia ini..mungkin kita tidak perlu cemas tentang si waktu ini....tidak ada perasaan waktu terlalu cepat ataupun terlalu lambat..
Cerita terus berlanjut dimana si penemu waktu ini harus bertanggung jawab dan menjadi si penjaga waktu sebagai hukuman, mendengarkan keluhan-keluhan semua orang di dunia mengenai waktu dikurung di sebuah gua sendirian. Hal lainnya selama dia menjadi penjaga waktu adalah ia tidak akan tua dan terus muda. Hingga akhirnya dia memiliki kesempatan untuk lepas dari hukumannya untuk menolong dua orang yaitu seorang gadis muda yang hendak bunuh diri karena dipermainkan oleh seorang teman pria dan seorang kakek tua kaya yang tidak rela untuk mati, memutuskan menjadi bahan percobaan di lab mengawetkan tubuh dan organ-organnya di sebuah tabung besar, berharap penyakitnya bisa disembuhkan beratus-ratus tahun ke depan sehingga ia bisa hidup kembali di masa depan.

Isi buku ini cukup sarat makna jika bisa menyelami alur cerita dan kalimat-kalimatnya. Gadis remaja tersebut membuat ia tersadar akan kebodohan yang ia lakukan menyia-nyiakan hidupnya karena cintanya yang dipermainkan, mengabaikan cinta dari orang-orang sekitarnya, dan terpaku pada keburukan-keburukan dirinya. Ia sadar bahwa waktu yang ia punyai harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berguna dengan memperhatikan kasih sayang dari orang-orang yang sayang kepadanya.
Kakek tua yang seharusnya menerima dan menghabiskan waktu bersama istrinya namun justru sibuk mengatur kekayaan di hari-hari terakhir dan mengabaikan istrinya. Ia pun tersadar apakah keabadian hidup itu menjadi berarti jika justru semua orang-orang yang dicintai telah pergi.

Menurut penelitian (bukan fiksi yaaaa hehe), waktu sebenarnya bergerak secara konsisten dengan tempo yang sama namun persepsi otak kitalah yang membuat waktu terasa cepat ataupun lama. Sebuah informasi atau hal yang tidak biasa dan mengejutkan akan terasa begitu lama buat kita. Seperti halnya ketika kita sakit ataupun ketika berada dalam situasi yang mengejutkan atau mengerikan, peristiwa itu akan terasa lebih lama. Tetapi lain halnya ketika kita melakukan hal yang menyenangkan atau banyaknya hal yang dilakukan dengan menggunakan otak kita maka waktu akan terasa lebih cepat.

Friday, March 15, 2013

60 lantai kehidupan



Suatu hari ada tiga orang karyawan yang ingin bersama-sama masuk kerja. Namu, ketika mereka masuk ke lobby ternyata lift yang ada sedang rusak sedangkan kantor mereka terletak di lantai 60. Mau tidak mau daripada tidak masuk kerja akhirnya mereka memutuskan untuk naik tangga darurat sampai ke lantai 60.

Mulailah bersama-sama mereka menaiki tangga, yang akan amat melelahkan. Bapak A kemudian berkata:" Hey, teman-teman daripada bosan selama menaiki tangga ini, bagaimana kalau saya cerita lucu-lucu?" kedua temannya pun setuju, siapa tahu dengar cerita lucu perjalanan yang melelahkan ini akan tidak terasa.Bapak A lalu mulai bercerita dan memang dia orang yang lucu dan pandai bercerita,kedua teman lainnya pun tertawa terbahak-bahak.

Akhirnya sampailah mereka di lantai 20, Bapak A menyerah "haduh, sudah capek saya cerita dan cerita lucu saya sudah habis, gimana nih? gantian kalian deh.". Bapak B lalu menyahut, "saya gak bisa cerita lucu-lucu, tapi saya bisa bernyanyi, gimana kalau saya bernyanyi saja?" kedua teman lainnya menjawab "OKE lah.."

Bapak B kemudian mulai bernyanyi walaupun suaranya pas-pasan tapi masih bisa diterima oleh telinga. ia pun bernyanyi segala lagu yang ia tahu, mulai lagu cinta, lagu putus cinta, lagu gembira, lagu sedih, lagu kemenangan, lagu kekalahan, dan segala rupa lagu. Perjalanan naik tangga sedikit terhibur.

Sampailah mereka di lantai 40, lagu-lagu Bapak B habis, suara juga sudah serak. Bapak B sambil batuk-batuk berkata "suara saya sudah habis nih, lagu-lagu yang saya tahu juga sudah saya nyanyikan, ayo gantian lagi.."

Bapak C kebingungan, "gimana yah..saya gak bisa cerita lucu dan gak bisa nyanyi..". salah satu temannya menjawab, "apa saja deh yang kamu bisa, sedikit lagi nih sampai ke kantor". Bapak C akhirnya berkata," mmm.. bagaimana kalau saya cerita kisah kehidupan saya?" kedua temannya berpandangan, lalu menjawa" Okelah.. cerita saja!"

Bapak C lalu bercerita tentang kehidupannya mulai dari dia lahir, masa dia kecil, permainan apa yang dia lakukan, dimana ia bersekolah, masa Tk hingga kuliah, pacaran pertama hingga menikah, usaha bisnis yang pernah ia lakukan, dan tak terasa mereka sampai juga lantai 60!!

 "HOREE..!" ketiga bapak ini kesenangan sampai juga mereka di kantor mereka yang masih terkunci. Bapak A meraba-raba kantongnya, "Gawat! kunci kantonya tertinggal di rumah! Bapak B, kamu bawa kunci tidak?". Bapak B dengan wajah polos, “lah.. saya kira kamu bawa jadi saya tidak bawa.” Bapak C juga dengan wajah berdosa, “maaf bapak-bapak saya lupa kunci saya taruh dimana…”. Ketiga bapak itu yang tadinya ceria sekarang saling berpandangan *speechless
========================================================================

Makna dari cerita tersebut bukanlah sebatas humor namun ada makna yg lebih dalam terkandung di dalamnya...

Bapak A dengan cerita lucu-lucunya hingga lantai 20 merupakan gambaran dari kehidupan kita ketika kita lahir hingga berumur 20 tahun, semua terasa ringan, gembira, penuh dengan hal-hal lucu yang terjadi di masa-masa tersebut.

Namun ketika kita beranjak menuju 20 tahun sampai 40 tahun sama seperti nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan Bapak B. Kehidupan setelah 20 tahun akan lebih dipenuhi konflik, entah senang maupun sedih. Di masa-masa ini karir, mencari pasangan hidup, pernikahan, keluarga, anak-anak penuh dengan masa-masa gejolak, jatuh bangun, masa-masa bahagia dan susah dan masalah-masalah yang harus dihadapi.  

Ketika berusia 40 tahun ke atas kita mulai beranjak ke lanjut usia, pemikiran-pemikiran lebih matang dan lebih ingin untuk menikmati hidup. Seperti yang digambarkan oleh Bapak C di lantai 40 hingga 60, begitupula di masa-masa menuju lansia orag-orang akan cenderung unutk mengenang masa-masa lalu bercerita atau sharing mengenai masa mudanya, perjalanan hidupnya jaman-jaman masa kecil hingga dewasa.
Begitulah kehidupan yang harus dijalani, ketika saatnya untuk menghadapi gejolak-gejolak hadapilah. Waktu terus berjalan tanpa terasa entah siap ataupun tidak, isilah kehidupan dengan arti dan hal-hal yg baik, tidak ada kata terlambat ataupun harus menunggu hingga kita pensiun baru membuat benih-benih kebajikan. Hingga akhirnya suatu hari kita punya cerita yg bermakna untuk diceritakan kembali.


Tulisan ini bersumber dari cerita Dhamma oleh Bhante Kampai~

Sunday, May 20, 2012

Cari kerja itu gak gampang... (2)

Lanjutan dari blog sebelumnya...

Oke di hari Final Interview, dengan full of confidence, full of hope, full of excitement ..saya sempat gak menyangka kalau emang diterima betapa senangnya dan cepatnya dapat kerja..

By the way, saat interview saya sempat berkenalan dengan pelamar lain yang lebih berpengalaman dari saya dan sedang mengajar di salah satu sekolah internasional juga. Di final interview ini saya bertemu lagi dengan cici ini, kami sempat mengobrol dan saya akhirnya tahu di interview tahap pertama saya tidak disuruh demo teaching padahal setiap akan melamar jadi guru pasti harus melewati tes ini tapi saya tidak. Saya sempat bersyukur untung gak disuruh demo teaching karena saya juga belum siap dan masih blank ngajar di depan itu kayak gimana tapi lewat juga malah dipanggil untuk final interview...

Saatnya tiba final interview, saya pikir saya akan ketemu dengan kepala HRD tapi tak disangaka saya dibawa ke ruangan untuk interview dengan Kepala Direktur Yayasan dan Kepala SD (lupa jabatannya apa yang pasti ibarat kepala paling tinggi di sekolah itu). Seorang ibu yang mungkin menuju 40 tahun dan seorang bapak yang lebih tua mungkin menuju 50 tahun. Saya di tes ulang lagi disuruh memperkenalkan diri dengan bahasa Mandarin, saya sempat bingung dan jadi kesal mungkin disini letak kesalahan terbesar saya. Kemungkinan emosi ini terbaca oleh si Ibu. Karena dalam pemikiran saya kenapa saya di tes ulang yang sama dengan tahap pertama, seakan-akan interview tahap pertama dengan Wakil Kepsek SD itu tidak berlaku atau useless, tapi saya tetap jalani dan saat saya berbicara dalam Mandarin jauh lebih  baik dari interview tahap pertama. Selanjutnya, seakan tidak percaya saya mampu dan level hasil belajar saya hebat atau tidak, Bapak itu menyuruh saya membaca tulisan kaligrafi yang berada di belakang saya, tentu aja saya gak bisalah..! Saya langsung bilang level Mandarin saya belum sangat tinggi hanya level menengah, belajar 1 tahun gitu gak sampai tinggi-tinggi amat levelnya..tapi dipaksa baca tulisan yang kayak benang kusut itu..akhirnya saya cuma bisa baca 1 atau 2 karakter pertama terus gak tau terus ada yang bisa baru dibaca, akhirnya ngeliat saya kayak gitu langsung disuruh STOP.

Okay...ini salah satu yg bikin saya down abis dan sebel juga tes Mandarin apaan tuh. Akhirnya mereka tes bahasa Inggris, mulailah percakapan dalam Bahasa Inggris yang pertanyaannya lagi-lagi sama dengan interview tahap pertama kemaren, saya jadi makin sebel pertanyaan diulang-ulang jadi gak sabar cuma dalam hati aja sih. Sampai pada pertanyaan yang menurut saya menjatuhkan penilaian si Ibu terhadap saya: "What do you see in children??"..Saya diam lama, berpikir apakah saya jawab "because they' re cute, innocent?" jawaban apa yang keliatannya gak dangkal, gak tau mau jawab apa..sampai saya akhirnya menjawab "because I like teaching from children to adults, so I would like to apply and share my knowledge."(gak nyambung!) tapi saya blank mau jawab apa. Apa yang saya lihat dari anak kecil selain mereka itu lucu and polos? agak menyesal dengan jawaban yang udah keluar tapi gimana lagi, pertanyaannya terlalu dalam dan gak penting, pada intinya saya suka anak-anak alasannya abstrak. Kesalahan saya adalah saya emosi dan saya merasakan itu, emosi karena menurut saya pertanyaan yang sama diulang-ulang, tesnya gak penting. Akhirnya saat ditanya "apakah ada pertanyaan? "saya tanya "tujuan interview ini apa? " tapi ya gak emosi dengan senyum habis saya gak tau mau tanya apa lagi soalnya semua udah jelas dari website dan interview tahap pertama. 

Dari begitu cepatnya interview saya sadar pasti gagal nih, soalnya itu berarti para interviewer gak tertarik. Tapi masih berharap-harap semoga ada bintang keberuntungan memihak saya. Tetapi sampai 1 bulan lebih saya tidak dipanggil lagi, lalu saya bertanya dengan cici yang melamar di sekolah itu juga dia sudah dipanggil lagi 2 minggu sesudahnya membicarakan gaji dan peraturan sekolah. Tapi, karena rasa penasaran yang besar dan keras kepada gak terima ternyata saya ditolak! Maka, saya kirimlah email terima kasih dan bertanya bagaimana proses selanjutnya, tetapi dicuekin..alias gak dibalas sama sekali...ya sudahlah, let go. Waktu itu rasanya seperti patah hati ..lebih parah dari jatuh cinta trus patah hati..*lebay* yang pasti kecewa.

Maka dari itu pelajaran dari interview ini bakal saya ingat, karena interview kali ini juga baru awal2 pengalaman interview jadi belum pengalaman jawab pertanyaan-pertanyaan. Hal-hal yang saya petik dari interview kali ini adalah:

@ harapan-harapan yang terlalu tinggi bisa menghancurkan performance kita, kalaupun sampai di final interview maka itu jangan over confidence akibatnya kita jadi menyepelekan interview tersebut.

@ Jaga emosi apaun yang ditanya atau sikap dari interviewer harus sabar dan senyum.Saya punya karakter tidak sabaran dan gak suka bertele-tele makanya lagi melatih supaya bisa kontrol emosi hehehe..

@ Hati-hati dengan expected salary yang diisi di form, sebaiknya tuliskan range dan jangan terlalu tinggi (range di atas 5 juta itu gak mungkin buat gaji guru sekalipun guru di skul international masih berkisar di bawah 5 juta apalagi masih non-experience; kecuali kalau skul international yang kita mau lamar sudah punya nama beken, banyak murid, dan stabil bisa dapat di atas 5 juta)apalagi yang belum punya pengalaman seperti saya walaupun secara pendidikan sudah menunjang, lebih baik tulis gaji yang sedang-sedang aja terus dikurungin negotiable.

@ Persiapan interview itu penting, mau berapa kalipun pernah diwawancara tetap harus persiapan!

@ Kalau ditolak atau gagal interview jangan putus asa, lamar lagi ke tempat-tempat lain dan lagi.. 

Saturday, May 19, 2012

Cari kerja itu gak gampang...(1)

Sejak dari bulan Februari saya mulai melamar pekerjaan. Saat itu saya berpikir untuk bekerja menjadi guru sekolah internasional. Walaupun saya tidak mempunyai ijazah atau pengalaman menjadi guru tapi sejak dulu saat saya mulai memberikan les kepada anak kecil saya jadi tertarik untuk mengajar karena saya merasa ada keasikan sendiri, ditambah pula saya menguasai Bahasa Inggris dan Mandarin, dan sayang kalau tidak terpakai ditambah lingkungan di Indonesia kurang sekali menunjang praktek bahasa asing. Maka dari itu saya berpikir untuk mencari pekerjaan dimana saya dapat menggunakan kedua bahasa ini atau paling tidak mengasahnya dengan berkomunikasi. Pilihan saya tertuju pada mengajar karena dengan mengajar otomatis kita jadi belajar untuk meningkatkan dan mengasah kemampuan kita, supaya murid yang diajar juga makin bertambah ilmu gurunya juga menjadi lebih tau banyak.


Sekolah internasional pun jadi target CV karena di sekolah internasional otomatis kita harus menggunakan kedua bahasa tersebut saat mengajar anak-anak, ditambah dari cerita teman saya yang telah menjadi guru di sekolah internasional katanya gajinya besar (melebihi gaji manager loh! ya iyalah..1 anak uang sekolah 5 jt/bln). Sekolah internasional pertama yang memanggil saya dan juga interview kedua. Sekolah internasional ini bukan sembarangan sekolah dan mayoritas lebih ditekankan pada bahasa Mandarin.Saya pun senang sekali dapat panggilan dari sekolah itu, mulai deh membaca tips-tips interview cara berpakaian, posisi duduk, ekspresi, dll. Saat mengisi form tertulis di sekolah itu, tidak tanggung-tanggung saya menulis expected salary yang sangat tinggi (setelah saya meninjau ulang dan interview ke banyak tempat)!. 


Pada saat interview dengan orang pertama di ruang kelas (sepertinya jabatannya HRD) dia mewawancarai saya dengan bahasa Mandarain, karena saya melamar untuk guru bahasa Inggris atau bahasa Mandarin! Jujur, saya tidak ada persiapan jadi saat ditanya untuk memperkenalkan diri dalam bahasa mandarin, saya jadi kagok dan keliahatan tidak lancar ditambah pula lupa dengan salah satu sebutan untuk gelar S2 dalam bahasa mandarin, saya sempat pause untuk berpikir "apa ya?" dengan muka berpikir keras. Malu banget! dalam form yang saya isi kemampuan speaking chinese dari kurang, cukup, bagus, langsung dicoret turun level. Sedih deh :(


Selanjutnya, saya dibawa ke ruang wakil kepala sekolah SD disini saya wawancara dengan bahasa Inggris, bahasa Inggris ibu gurunya lumayan bagus untuk ukuran orang lokal tapi dia masih merendah hati kalau bahasa Inggrisnya kurang bagus dan mengucapkan maaf karena bahasa Inggrisnya yang kurang. Saat wawancara dengan bahasa Inggris tidak menjadi masalah, saya bisa dengan lancar menjawab setiap pertanyaan walaupun sepertinya ada grammar yang salah saat ngomong. Tapi yang lebih susah itu adalah pertanyaannya! 


Pertanyaan standar seperti "Kenapa kamu memilih kerja jadi guru?  gak kerja di kantor aja secara gaji di kantor lebih besar dari guru, latar belakang pendidikan juga gak ada hubungan sama sekali jadi guru.", pengalaman kerja dulu, apakah saya bersedia mengikuti peraturan sekolah seperti ini itu, dan pertanyaan yang paling susah menurut saya adalah "apa yang kamu lakukan kalau ada murid kamu yang berkelahi?", "bagaimana kamu mengatur kelas karena berbeda dengan ngajar les yang cuma beberapa orang, di kelas kamu akan menghadapi banyak murid?", "bagaimana kamu menghadapi orang tua murid yang komplain karena anaknya berkelahi di kelas?" untungnya hari sebelumnya saya sempat baca artikel tentang "class management" karena saya kan tidak ada pengalaman sama sekali menjadi guru, jadi saya gunakan isi artikel itu untuk menjawab pertanyaan ibu wakil kepsek. Kelihatannya interview berjalan lancar walaupun saya dag dig dug jawab pertanyaannya, karena tidak saya sangka bakal ditanya mendalam dan detail. 


Selang seminggu saya dipanggil lagi final interview dengan harapan berbunga-bunga saya kira saya bakal diterima jadi saya tidak begitu mempersiapkan apa2, hanya browsing-brrowsing artikel seandainya pertanyaan sama terulang dan bagaimana memperkenalkan diri sendiri dalam mandarin dan sudah terbayang-bayang akan ditanya soal gaji dan negosiasi, akan tetapi... (to be continue)....

Thursday, April 26, 2012

I miss those memories

It has been almost more than 3 months since I'm back to Jakarta and Im still unemployed. I know this feeling is sucks and for most people who are jobless would feel the same. Besides of looking for a job, doing many interviews and practicing myself for interview...the most I feel is I miss all memories I ever had while I studied overseas..

I keep looking back how happy was I when I was in Malaysia and China, it felt so free....of course I still had homesick back then. I miss so many things that I have had experienced there..

Kuala Lumpur, Malaysia..
this was my first time study abroad..I cried for the first 3 days and had homesick and need 3 months to adapt. But then, I get used to everything. Everything became so much fun.

I changed room twice and overall 4 roomates have stayed with me along my study there...Each of them has own characteristic and different experience. I never choose who is my roomate but then after they leave you may have some expectation what kind of person you wish to stay with. My first roomate was Indonesian, second was Iranian, third and fourth were Malaysian-Chinese. In the dorm, I stayed in double room , it is really mini size..maybe 4X6 metres, 2 beds, 2 study desks, and one shared-bathroom. we can see each other and the distance between our bed just 100 cm , I think. Only one person can walk on that distance. We cleaned our room by ourself and sometimes my roomate or me cooked inside the room. I must have breakfast everyday so the quickest and the laziest food is boiled egg, bread with jam and one glass of milk. I ate those breakfast during my stay in KL, now I feel sick with boiled egg.

I still can remember the memory of me walking every afternoon to buy lunch at Mama Kitchen near my dormitory. I went down to the lift, said Hi to the "Makcik" a security lady..then crossed the street ..the weather was terribly hot then I can see those Indian shopkeeper, Giant supermarket, Malay women who sold clothes, Pizza Hut...
Then I arrived at Mama Kitchen , a cheap Chinese ala carte restaurant.. sometimes I ate there if I went along with my friend, but most of the time I took it away..
The restaurant always crowd at lunch time.. Then I would pass the Mama, or her husband, or her son who are always at cashier.. We lined the queue, then their quick hands would count our dishes and gave us change.. mostly I spent 5RM-10 RM for lunch...and really big size.

Another restaurant is an Indonesian restaurant called "Kafe Mesra" selling TomYam and other Thai food.. It is weird while the chef and waitress are Indonesian but they sell Thai food? anyway, the taste are not bad, just we have to wait for a looonggg time, we often pissed off because we had to wait for almost 1 hour at dinner time. So we the other option is the Ali Maju, next to Kafe Mesra. Ali Maju is an Indian restaurant which most of the waitresses cant speak English very well but can speak Malay a little bit (food vocabs)..It is a Indian-muslim restaurant. They keep shaking their head after talking one word and it is really funny..but they always make mistake with our order. They sell Chinese food too and of course mix with a little India ingredients and style, the taste is really awful. The best to order is Roti Canai and some India foods.

Surrounding my dormitory is Bangsar area..this is quite high end place and rich people stay there. In Bangsar we can shop at outdoor Boutique or cafe-ing..I seldom to shop there coz can't bargain much even though the boutiques have many pretty dress..Oh, and they hold night market every Wednesday? (can't remember) it is really nice coz there are so many delicious and street foods there.. Hmm.. eating at night is like a habit for people there and trust me their food is really not bad..sluurrrpp!!

Then I spent my evening had chat with my friend on another floor or just stayed at level 1 to enjoy the aircon and saw other students while playing my laptop or doing assignments. Also, with my classmate rode her motorbike went somewhere, I missed her , we lost contact after she back to Batam.

Most of the time I spent for chit-chatting and I enjoyed it..then if I was not lazy I would go to my two close friends at Casa Damansara by bus..we had chat, watched movie, discussed assignments, cooked Chinese foods..then at night I went back to my dorm. FYI, as a student we got discount for the cinema ticket really cheap..9 RM (Ringgit) on weekdays at Tropicana Mall, 12 RM at Mid Valley..

On the weekend , Me and my friends went to some shopping centre at Bukit Bintang. I always like to go there, there are so many malls and stuffs from low price to high end, many foreigners walked by. We usually went there by bus and LRT..sometimes I went alone to a mall just because feel so bored..

Other nicest things are KL is near Singapore and the transportation to go to another cities are really convenient.. we can go to Pudu Raya- a bus terminal centre that has many buses that provide transportation to Malaka, Genting, Johor Bahru, ALor, Penang, etc...

I can feel adventurous feeling pumping up my body, it was really exciting to manage which city you wanna go     alone or with friends or family.

Wednesday, March 28, 2012

We blame, we don't respect

We blame each other~
you make this fault, why you never change? why you didn't do this?
She went to the room and muttered with red face, how messy that room. You all day here and why you never clean it?
*Those mess not me who made it, all stuff were not mine~ (grumpy). "It is useless to clean it when the person who make the mess never realize how selfish she is and never want to organize her stuff. Plus, she always hurt me with her attitude. ..(in my mind)

I went up to look if I could do something to help but then she slammed the door on face and shouted "Go down!"

Another 'She'came back from school complained about her clean and tidy room, blamed me why I didn't watch when the room was being cleaned. As the result, some of her stuff were gone.

We don't respect each other~
We are talking to each other very loud and impolite seem like I owe something to you.
Me: Please open the air-con I am sweating..
*No, it is raining outside, don't you see? Besides I don't want to open Air-con
I go down and open the fan..
*Then, she open the air-con.

Those kind of thins almost happen every day, rude and emotional conversation with impolite attitude, loud voice. People said "words is sharper than a blade" this is absolutely true. Today, I looked up the sky and wished I could leave this home very soon. Is it the best decision to stay here? I really hope can forget all these hurts and forgive them.

Everybody is selfish they think they are right and other is stupid. They only see everything from their side without thinking others' feeling. They think I'm ok with that, I'm used to it. They treat me like I am the wrong one. Please don't use me as a bin for your bad emotion. After you throw away your emotion to me and feel like nothing has happened, honestly it has created a hole in my heart. Even though you don't mean it, please be careful with your words. How can I respect my self if you always curse me. I can't speak out in this home, I have no right. How can I expect people outside listen to me if the closest people in your life never listen ?