Pages

Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Thursday, October 28, 2010

A Story of Emotions

"Once upon a time, there was an island where all the feeling lived:
Happiness, Sadness, Knowledge, and all of the others, including Love.

One day it was announced to the feelings that the island would sink, so all constructed boats and left. Except for Love.

Love was the only one who stayed. Love wanted to hold out until the last possible moment.
When the island had almost sunk, Love decided to ask for help.

Richness was passing by Love in a grand boat. Love said, "Richness, can you take me with you?"
Richness answered, "No, I can't. There is a lot of gold and silver in my boat. There is no place for you."

Love decided to ask Vanity who was also passing by in a beautiful vessel. "Vanity, please help me!"
"I can't help you, Love. You are all wet and might damage my boat, " Vanity answered.

Sadness was close by so Love asked, "Sadness, let me go with you."
"Oh..........Love, I am so sad that I need to be myself!"

Happiness passed by Love, too, but she was so happy that she did not even hear when Love called her.

Suddenly, there was a voice, "Come, Love. I will take you." It was an elder.
So blessed and overjoyed, Love even forgot to ask the elder where they were going. When they arrived at dry land, the elder went her own way. Realizing how much was owed the elder.

Love asked Knowledge, another elder, "Who helped me?"
"It was Time," Knowledge answered.
"Time?" asked Love. "But why did Time help me?"

Knowledge smiled with deep wisdom and answered,
"Because only Time is capable of understanding how valuable Love is"

---------------------------------------------------------------------------
This story I copied from a website. I feel touched with this simple story so I'd like to share with all readers here. This story reminds me with the real world where people has forgot about what is Love and caring people we love.
Last but not least, the last favorite sentence:
"Because only Time is capable of understanding how valuable Love is"

It makes me really believe that Time can make people value love, respect and grateful with what we have now.

Friday, March 5, 2010

Arti kematian


Hampir dua tahun saya di Malaysia, jauh dari rumah dan sepanjang itu pula banyak kejadian terjadi termasuk kematian. Saya belajar banyak tentang makna dan arti kematian dan perasaan ditinggalkan.

Dulu, ketika saya masih berusia remaja ada satu kejadian bagaimana saya mempersepsikan kematian. Ketika kami menunggu guru kami yang akan mengajar pelajaran tersebut tidak kunjung tiba, 1 jam lewat berita duka cita datang mengabarkan bahwa beliau meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan. Kami syok! pada saat itu juga kami mengheningkan diri dalam suasana berkabung. Beberapa teman saya melelehkan air mata dan suasana sedih seketika. Apa yang saya lakukan? saya melirik-lirik sana sini melihat teman-teman saya. Teman saya bertanya pada saya ketika jam pelajaran istirahat: "Kamu tidak merasa sedih?" (karena saat itu saya masih tersenyum seolah tidak ada yang terjadi). Saya menjawab: "kenapa mesti sedih? sudah meninggal lalu mau bagaimana?". Saya sadar saya berbicara seolah tidak punya perasaan, tapi itu benar adanya yang ada dalam benak saya, kita menangis pun guru saya tidak akan kembali. Apakah itu salah? apakah saya tidak mengerti arti kematian saat itu? kenapa tidak ada sedikit rasa inging menangis? yahh...mungkin saya tidak mengerti.

Waktu berlanjut, saya beranjak masuk SMU dan kuliah. Di masa- masa ini saya merasakan perasaan sedih karena kematian. Beberapa teman saya ditinggalkan oleh papa atau mama mereka untuk selamanya. Pertama kali, saya tidak tahu bagaimana harus bereaksi tapi saya merasakan perih membayangkan jika itu terjadi pada saya dan sedih bagaimana perasaan dan nasib teman saya yang terbilang masih muda. Saya ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka, yang dapat saya lakukan adalah turut berduka cita dan saya benar-benar berharap pada Tuhan dan Buddha untuk membantu dan memberikan ketabahan buat mereka.
Saya merasa bersyukur atas apa yang saya punya saat itu, saya masih punya orangtua. Pada masa ini saya rajin ke rumah duka jika saya mendengar teman saya kehilangan orang yang dikasihinya ataupun siapa saja yang saya kenal, asalkan rumah duka itu masih bisa terjangkau.

Selanjutnya berita kematian yang saya alami selama di Malaysia, tidak terhitung. Tiga bulan pertama di Malaysia, Ako (tante) saya yang tinggal di Malaysia, Johor Bahru meninggal dunia. Sedih sekali karena setiap kali liburan dan ke Malaysia kami pasti ke tempatnya, dan itulah alasan utama ke Malaysia yaitu untuk mengunjunginya. Karena ia tinggal jauh dari negaranya dan tidak pernah kembali setelah berkeluarga. Dia orang yang baik dan tulus, cerita hidupnya begitu menyentuh. Tante saya itu meninggal pertengahan abad. Cukup ironi ketika mendengar saat-saat terakhir sebelum ia meninggal karena sakit. Tidak akan saya bahas disini, mungkin lain kali. Saya langsung ke Johor sendiri. Pertama saya tidak menangis hanya sedih dan saya baru benar-benar menangis ketika melihat orang lain menangis. Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa susah buat menangis? apakah hati saya begitu dingin?
Kemudian disusul berita papa sahabat saya yang meninggal, saat itu saya langsung menangis setelah mendengar kabarnya. Sedih karena tidak bisa menemani teman saya. Banyak hal berkecamuk di pikiran saya dan saya tahu itu tidak mudah buat teman saya. Selanjutnya, berita-berita kematian orang-orang yang sudah tua, nenek teman saya, kerabat dan teman orang tua saya.

Di tahun 2010 ini, selajutnya berita kematian guru tersayang saya di waktu SD dan nenek saya.

Jadi, apa yang saya pelajari disini?
Sejak begitu banyak peristiwa kematian saya sempat berpikir: Siapkah jika suatu hari saya ditinggalkan? Apakah saya udah melakukan yang terbaik? setidaknya saya tahu saya harus siap jika hal itu terjadi.

Seringkali saya berpikir bagaimana dan apa yang dilakukan setelah mati? kemana mereka pergi?

Dan sepertinya sekarang ini saya mulai mendapat jawaban setelah saya mencari dan membaca perihal kematian menurut agama Buddha. Hal- hal yang tidak mungkin terjelaskan dan hidup sebagai manusia menjelang kematian tidaklah mudah jika kita tidak ingin tersesat di alam lain.

Maka itu sebagai manusia banyak-banyaklah berbuat baik dan belajar bijaksana dalam menyikapi hidup. Ada sebuah kalimat yang sering kita dengar.. Kebahagiaan, makna hidup bukan diukur dari panjangnya usia tapi dari hal berarti yang telah dilakukan selama hidup..